WhatsApp Image 2026-05-11 at 15.43.07
ARTIKELUncategorized

Decluttering untuk Kesehatan Mental dan Pikiran yang Lebih Tenang

Belakangan ini, decluttering menjadi kebiasaan yang mulai banyak dilakukan, terutama oleh orang-orang yang merasa mudah lelah, sulit fokus, atau cepat merasa penuh dengan aktivitas sehari-hari. Sekilas, decluttering terlihat seperti kegiatan sederhana berupa merapikan rumah dan mengurangi barang yang tidak terpakai. Namun di balik itu, ada pengaruh yang cukup besar terhadap kondisi mental seseorang.

Tanpa disadari, lingkungan tempat seseorang tinggal ikut memengaruhi suasana hati dan cara seseorang merespons stres. Ruangan yang terlalu penuh, berantakan, atau tidak tertata sering kali membuat pikiran terasa sesak. Bukan karena barang-barang tersebut bermasalah, tetapi karena otak terus menerima rangsangan visual secara terus-menerus. Akibatnya, tubuh lebih mudah merasa lelah meskipun tidak banyak melakukan aktivitas fisik.

Dalam teori kesehatan mental dari Marie Jahoda, seseorang dikatakan memiliki kondisi mental yang sehat ketika mampu merasakan keseimbangan dalam hidup, memiliki kontrol terhadap lingkungan, serta dapat berfungsi dengan nyaman dalam aktivitas sehari-hari. Lingkungan yang tertata dan nyaman dapat membantu seseorang merasa lebih tenang secara emosional, sementara lingkungan yang penuh dan tidak terorganisir sering kali memicu rasa tidak nyaman, stres, dan kelelahan mental ringan yang berlangsung terus-menerus.

Hal ini sering muncul dalam bentuk yang sederhana. Misalnya merasa kesal ketika sulit mencari barang, malas memulai pekerjaan karena meja terlalu berantakan, atau merasa tidak nyaman berada di kamar sendiri. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi kecil seperti ini dapat memengaruhi emosi dan membuat pikiran terasa lebih berat.

Karena itu, banyak orang merasa lebih lega setelah mulai merapikan ruang pribadinya. Saat barang-barang mulai tertata, ruangan terasa lebih lapang dan pikiran pun ikut menjadi lebih tenang. Ada perasaan nyaman ketika melihat lingkungan di sekitar terasa lebih rapi dan terorganisir. Tubuh juga cenderung lebih rileks karena tidak terus-menerus menerima distraksi dari lingkungan yang penuh.

Decluttering juga sering menjadi proses emosional. Tidak sedikit orang menyimpan barang karena memiliki kenangan tertentu, rasa sayang, atau takut akan menyesal jika membuangnya. Hal tersebut wajar, karena manusia memang memiliki keterikatan emosional terhadap benda-benda tertentu. Namun ketika terlalu banyak barang dipertahankan tanpa fungsi yang jelas, rumah dapat terasa penuh bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental.

Di sisi lain, decluttering dapat membantu seseorang belajar melepaskan hal-hal yang sebenarnya sudah tidak lagi dibutuhkan. Proses ini sering kali menghadirkan rasa lega, seolah ada beban kecil yang ikut berkurang. Ruang yang lebih sederhana membuat seseorang lebih mudah beristirahat, lebih fokus menjalani aktivitas, dan lebih nyaman dengan dirinya sendiri.

Kesehatan mental pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang menghadapi masalah besar, tetapi juga bagaimana seseorang menjaga dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Kadang, ketenangan tidak selalu datang dari liburan atau menjauh dari kesibukan, melainkan dari ruang hidup yang terasa nyaman untuk ditempati.

Pada akhirnya, decluttering bukan tentang membuat rumah terlihat sempurna. Decluttering adalah tentang menciptakan ruang yang memberi rasa tenang, nyaman, dan tidak melelahkan secara emosional. Sebab ketika lingkungan di sekitar mulai terasa lebih ringan, sering kali pikiran juga ikut menemukan ruang untuk bernapas lebih lega.

Yessy Cahya Purnama S.Psi – Donasi Barang

WhatsApp Image 2026-05-04 at 13.48.01
ARTIKELBERITA

Meringankan Langkah, Menabung Berkah Belajar Melepaskan dari Kota Jambi.

Pernahkah Anda merasa “sesak” saat melihat lemari pakaian yang penuh, namun tetap merasa bingung ingin mengenakan apa? Deretan pakaian yang masih bagus namun hanya tersimpan selama bertahun-tahun sebenarnya adalah “energi yang stagnan” di dalam rumah kita. Secara spiritual, barang-barang yang menumpuk tanpa manfaat bukan sekadar masalah estetika ruangan, melainkan tanggung jawab besar yang kelak akan kita pertanggungjawabkan.

Melepaskan barang yang memiliki nilai kenangan memang menantang. Ada ikatan emosional dan materi yang membuat kita sulit merelakannya. Namun, ada keindahan luar biasa saat kita mampu mengubah “harta yang diam” menjadi “amal yang mengalir”. Inilah esensi kemanusiaan: menyadari bahwa apa yang berlebih pada kita, mungkin adalah jawaban atas doa-doa orang lain yang kekurangan.

Kisah Inspiratif dari Seberang Pulau

Semangat untuk berbagi tidak mengenal batas wilayah. Kali ini, inspirasi datang dari Kak Ayu, seorang donatur berhati mulia dari Kota Jambi. Melalui percakapan yang penuh ketulusan, ia membagikan perjalanannya melakukan decluttering spiritual sebuah langkah untuk membersihkan diri dari keterikatan berlebih pada materi.

Dengan penuh perhatian, Kak Ayu menceritakan niat tulusnya:

Dengan penuh perhatian, Kak Ayu menceritakan niat tulusnya:”Rencana ada mau donasi barang berupa pakaian, gamis, mukenah, semuanya masih bagus banget dan nanti mau saya packing ulang dalam keadaan bersih dan wangi.”

Kalimat ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa berdonasi bukan berarti membuang sampah, melainkan sedang memberikan hadiah terbaik. Menyiapkan barang dalam kondisi bersih dan wangi adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada sesama manusia yang akan menerimanya nanti.

Filosofi Kak Ayu dalam berdonasi sangatlah menyentuh. Ia menyadari bahwa barang-barang yang hanya menumpuk tanpa manfaat bisa menjadi beban, baik secara psikologis maupun spiritual. Ia mengungkapkan kekhawatirannya akan tumpukan barang yang tidak terpakai:

“Banyak banget pakaian dan mukenah ga kepakai, apalagi punya ibu saya, sayang aja kalo ga dipake, barang numpuk ga bermanfaat juga jadi dosa.”

Kebijakan hidup ini mengajarkan kita bahwa kita sering kali hanya menjadi “penjaga” barang sampai maut menjemput. Kak Ayu memilih untuk meringankan langkahnya dan langkah ibundanya dengan mengalirkan pakaian tersebut kepada mereka yang lebih membutuhkan. Niatnya begitu murni:

“Memang niatnya mengurangi harta pakaian agar tidak jadi pemberat saya dan ibu saya di kemudian hari.”

Jarak antara Jambi dan pusat operasional kami bukanlah penghalang bagi Kak Ayu untuk memastikan barang-barangnya tetap bermanfaat. Ia bahkan merencanakan pengemasan yang sangat detail untuk memudahkan proses sortasi:

“Nanti bajunya di packing satu satu, sesuai ukuran, dan jenis.”

Detail seperti ini sangat membantu tim operasional Donasi Barang dalam menyalurkan bantuan dengan tepat. Di yayasan kami, setiap helai pakaian dan alat ibadah dikelola dengan prinsip kemandirian dan transparansi. Barang berkualitas ini akan disalurkan melalui berbagai program sosial, mulai dari bantuan untuk panti asuhan hingga mukenah layak bagi guru mengaji di pelosok.

Kami di Donasi Barang memegang teguh motto “Sisa-Sisa Tak Selalu Sia-Sia”. Kami percaya pakaian yang sudah tidak muat bagi Anda bisa menjadi pakaian terbaik bagi anak yatim untuk mengaji. Mukena yang tersimpan di laci Anda bisa menjadi sarana ibadah yang khusyuk bagi ibu-ibu di desa terpencil.

Belajar dari jejak Kak Ayu, mari kita periksa lemari kita masing-masing. Adakah “pemberat” yang seharusnya kita lepaskan agar langkah hidup kita menjadi lebih ringan? Berdonasi adalah cara untuk membantu orang lain sekaligus menyembuhkan diri sendiri dari sifat kikir.

Jika Anda terinspirasi oleh kisah Kak Ayu, jangan ragu untuk memulai. Anda dapat menghubungi tim kami untuk mendapatkan informasi alamat pengiriman atau titik layanan terdekat. Kami menjamin setiap barang yang dititipkan akan dikelola secara profesional agar sampai kepada mereka yang benar-benar berhak.

Terima kasih kepada Kak Ayu di Jambi atas pesan indahnya yang mengedukasi kita semua. Semoga aliran pahala ini tak terputus bagi Kak Ayu dan Ibunda tercinta.

Mari bergerak bersama. Lepaskan apa yang berlebih agar keberkahan mengisi setiap ruang hidup kita.


Informasi Layanan Donasi Barang:

  • WhatsApp: 0856 9793 4766
  • Website: donasibarang.id
  • Instagram: @donasibarang

Mulai decluttering hari ini, dan alirkan manfaat untuk masa depan yang lebih cerah!

Nanda hermawan – Donasi Barang

13
ARTIKELBERITA

Menjemput Asa di Ambang Pintu, Seni Melepaskan dan Kemudahan Berbagi

Pernahkah Anda berdiri di depan lemari yang penuh sesak, menatap tumpukan pakaian yang sudah bertahun-tahun tidak tersentuh, namun merasa ada beban berat saat ingin melepaskannya? Di dalam setiap barang yang kita miliki, sering kali terselip memori sebuah kemeja dari perayaan lama, buku pelajaran yang menemani begadang, hingga mainan yang pernah menjadi saksi tawa anak-anak. Namun, seiring waktu, barang-barang ini perlahan berubah dari kenangan menjadi beban ruang yang kita sebut sebagai clutter. Melepaskan bukan berarti melupakan; melepaskan adalah cara kita memberi ruang bagi napas baru di dalam rumah, sekaligus memberikan kesempatan bagi barang tersebut untuk menuliskan cerita baru di tangan orang yang benar-benar membutuhkannya.

Sering kali, niat baik untuk berdonasi terhambat oleh kendala logistik yang tampak sederhana namun melelahkan “Bagaimana cara membawanya?” atau “Ke mana saya harus mengirimkan ini?” Kebingungan ini sering kali memadamkan api semangat berbagi sebelum sempat menyala. Kita membayangkan repotnya mengemas barang, mencari jasa pengiriman, hingga mengeluarkan biaya tambahan untuk ongkos kirim. Padahal, esensi dari berbagi seharusnya adalah kebahagiaan yang meringankan, bukan beban baru yang merepotkan.

Menjawab keraguan tersebut, Donasi Barang hadir dengan sebuah komitmen yang berakar pada kemandirian dan nilai kemanusiaan. Kami memahami bahwa setiap niat baik layak mendapatkan karpet merah. Salah satu layanan unggulan yang kami hadirkan adalah Jasa Penjemputan Donasi Gratis. Layanan ini dirancang khusus untuk menjadi jembatan bagi Anda yang memiliki semangat berbagi namun terhalang oleh keterbatasan waktu atau sarana transportasi.

Dalam sebuah percakapan hangat dengan seorang calon donatur di daerah Cibitung, Bekasi, terungkap sebuah kekhawatiran umum mengenai biaya penjemputan. Ada anggapan bahwa layanan jemput bola seperti ini memungut biaya atau tarif tertentu. Namun, perlu kami tegaskan kembali. Donasi Barang tidak memungut biaya apa pun untuk jasa penjemputan donasi Anda. Ini adalah bagian dari dedikasi kami untuk memastikan bahwa proses sedekah Anda berjalan semudah membuka pintu rumah.

Agar proses operasional tim di lapangan tetap efektif dan dapat menjangkau lebih banyak donatur, kami menerapkan beberapa ketentuan sederhana yang tetap mengedepankan fleksibilitas:

  • Standar Volume Barang: Kami menetapkan minimal barang donasi setara dengan 5 dus air mineral. Angka ini bukanlah batasan yang kaku. Jika Anda tidak memiliki kardus mineral di rumah, Anda bisa menggantinya dengan karung atau wadah lain yang tersedia. Hal terpenting adalah volume total barang tersebut memudahkan tim kami saat melakukan proses pemuatan ke armada penjemputan.
  • Ukuran Kemasan: Untuk efisiensi ruang di dalam kendaraan, ukuran maksimal setiap kemasan yang digunakan sebaiknya setara dengan dus rokok. Pengemasan yang rapi tidak hanya melindungi barang donasi Anda dari kerusakan selama perjalanan, tetapi juga menunjukkan penghormatan kita kepada calon penerima manfaat nantinya.
  • Wilayah Jangkauan: Saat ini, armada Tim SiBara (Sinergi Barang) aktif bergerak melayani wilayah Jabodetabek dengan radius jangkauan hingga 50 km dari pusat Donasi Barang. Wilayah seperti Bogor, Depok, hingga sebagian Tangerang sudah masuk dalam radar rutin penjemputan kami.

Motto “Sisa-Sisa Tak Selalu Sia-Sia” adalah napas dari setiap langkah yang kami ambil. Barang yang bagi kita mungkin hanya “sampah visual” di sudut ruangan, melalui proses pengelolaan yang profesional di gudang kami, akan diubah menjadi sumber daya yang sangat bernilai. Barang-barang tersebut akan disortir, dibersihkan, dan dikategorikan sesuai kebutuhan penerima manfaat di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga penanggulangan bencana.

Donasi Anda bisa berubah menjadi alat tulis bagi anak-anak di diberbagai daerah, pakaian layak untuk korban bencana, hingga bantuan kursi roda bagi lansia atau yang membutuhkan. Bahkan, barang yang sudah tidak bisa digunakan lagi akan masuk ke jalur daur ulang kreatif, melibatkan insan berkemampuan khusus untuk menciptakan produk baru yang memiliki nilai ekonomi.

Waktunya Mengetuk Pintu Kebaikan

Berbagi adalah seni mengalirkan berkat. Dengan layanan penjemputan gratis ini, Donasi Barang ingin mengajak Anda untuk melakukan decluttering dengan tujuan yang lebih mulia. Jangan biarkan niat baik Anda menguap begitu saja hanya karena alasan logistik.

Ambil ponsel Anda, pilah barang-barang yang sudah tidak memberikan kegembiraan atau fungsi di rumah Anda, dan biarkan tim kami yang melakukan pekerjaan beratnya. Kami akan datang ke ambang pintu Anda, menjemput barang-barang tersebut, dan mengalirkan kebermanfaatannya sejauh mungkin ke seluruh pelosok negeri.

Mari kita buktikan bersama bahwa kemandirian dalam menjaga nilai kemanusiaan bisa dimulai dari hal sesederhana merapikan isi rumah. Karena pada akhirnya, apa yang kita simpan untuk diri sendiri akan hilang, namun apa yang kita berikan kepada orang lain akan tetap ada dan terus mengalirkan pahala yang tak terputus.


Informasi Penjemputan:

Mari bersama memastikan bahwa sisa-sisa di rumah kita, tak akan pernah berakhir sia-sia.

Nanda hermawan – Donasi Barang

WhatsApp Image 2026-05-05 at 10.56.16 (5)
ARTIKELBERITAKEGIATANUncategorized

Mengukuhkan Kemandirian, Menjaga Akar Nilai Kemanusiaan

Perjalanan sebuah lembaga sosial yang terus membesar menuntut adanya penyesuaian struktural dan operasional yang matang. Dalam pertemuan strategis terbaru antara Dewan Pembina, Founder & CEO Donasi Barang, terungkap sebuah visi besar mengenai masa depan organisasi. Diskusi ini tidak hanya menyoroti pencapaian yang telah diraih, tetapi juga membedah tantangan administratif, legalitas, dan operasional yang harus segera dibenahi agar pergerakan organisasi tetap berada di jalur yang tepat dan berkelanjutan.

Langkah menuju kemandirian di dalam institusi menjadi tema sentral dalam pertemuan tersebut. Mengelola pertumbuhan organisasi yang pesat membutuhkan lebih dari sekadar semangat kerelawanan. Ia membutuhkan sistem yang terstruktur, akuntabilitas yang terukur, dan kepatuhan pada regulasi yang berlaku di Indonesia.

Legalitas Lebih Dari Sekadar Formalitas di Atas Kertas

Salah satu poin utama yang ditegaskan dalam pertemuan tersebut adalah pemahaman mendalam mengenai makna legalitas. Legalitas bagi Donasi Barang bukanlah sekadar formalitas yang kosong atau sekadar pemenuhan syarat administratif. Sebaliknya, pengesahan hukum ini membawa konsekuensi operasional yang sangat nyata.

Dengan entitas legal yang baru, Lembaga dituntut untuk benar-benar memahami dan mengimplementasikan kemandirian secara utuh, terutama dalam hal pengembangan lembaga, pencatatan, dan pertanggung jawaban. Selama ini, secara role Donasi Barang masih dibantu oleh Yayasan Cagar (Cahaya Keluarga Fitrah), namun saat ini Donasi Barang dituntut untuk mulai mandiri secara administratif.

Meski didorong untuk mandiri, Yayasan Cagar dipastikan tidak akan lepas tangan begitu saja. Tanggung jawab mengelola lembaga sosial adalah amanah yang besar. Oleh karena itu, tim Cagar akan terus bertindak sebagai pembina dan pengawas. Dalam struktur ini, telah ditetapkan pembagian peran yang jelas, di mana terdapat Dewan Pembina serta jajaran pengawas yang diisi oleh tokoh-tokoh seperti Bapak Anang Rachmadi, Ustad Deka Kurniawan, Ibu Ismunawaroh, dan Ibu Eka Widyani Latief. Mereka memiliki kewajiban moral dan institusional untuk terus memberikan dukungan, masukan, dan arahan agar semangat belajar serta kapasitas manajerial tim Donasi Barang semakin meningkat.

Harmonisasi Gerak Secara De Facto Menyatu, Secara Yuridis Mandiri

Kemandirian yang dimaksud dalam diskusi ini berfokus pada strategi kelembagaan dan administratif. Secara de facto atau di lapangan, semangat, nilai-nilai, dan kegiatan antara Cagar dan Donasi Barang akan tetap menyatu. Hal ini sangat penting ditekankan agar tidak terjadi mispersepsi atau kekeliruan pemahaman di kalangan relawan dan tim lapangan saat mendengar adanya identitas entitas yang baru.

pertemuan dengan Dewan Pembina serta jajaran pengawas yang diisi oleh tokoh-tokoh seperti Bapak Anang Rachmadi, Ustad Deka Kurniawan, Ibu Ismunawaroh, dan Ibu Eka Widyani Latief.

Navigasi Perizinan Sosial di Tengah Regulasi Nasional

Seiring dengan membesarnya skala operasional, kepatuhan terhadap perizinan menjadi mutlak. Regulasi di Indonesia saat ini sudah semakin teratur, mencakup dari sisi pengelolaan keuangan hingga pergerakan yayasan.

Diskusi menyoroti perlunya Donasi Barang menyesuaikan status perizinannya. Saat ini, untuk tahap awal, perizinan domisili dan operasional dapat diurus di tingkat provinsi, misalnya di Jawa Barat, apabila cakupan areanya masih terbatas di dua provinsi. Namun, terdapat proyeksi regulasi yang mengharuskan organisasi untuk mengurus perizinan ke tingkat nasional melalui Kementerian Sosial apabila operasional dan dampak layanannya sudah meluas dan menjangkau lebih dari tiga provinsi. Oleh karena itu, penataan perizinan secara bertingkat, dari kecamatan, kota, provinsi, hingga nasional. menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus dipersiapkan sejak dini.

Akar dari pergerakan ini tidak dapat dipisahkan dari misi kemanusiaan yang jauh lebih awal, yakni dedikasi untuk mendukung anak-anak spesial yang dibina oleh Cagar Foundation melalui Rumah Autis. Sejak awal berdirinya, fokus utama gerakan ini adalah memberikan pendampingan dan pembiayaan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, yang mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu agar tetap mendapatkan layanan pendidikan dan terapi yang layak. Pada masa itu, inisiatif penggalangan barang belum menggunakan nama yang dikenal luas saat ini. Setelah melalui berbagai proses evaluasi dan beberapa kali pergantian identitas, barulah pada awal tahun 2017 nama Donasi Barang resmi diperkenalkan. Transformasi ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan perkenalan pola gerakan baru dalam ekosistem filantropi dan sirkular ekonomi yang terus berkembang hingga menjadi institusi yang kita kenal sekarang.

Memperkuat Akuntabilitas melalui Audit Publik dan Mitigasi Risiko

Seiring dengan pertumbuhan skala organisasi yang semakin masif, Donasi Barang kini dihadapkan pada tanggung jawab manajerial yang lebih kompleks, terutama dalam menjaga kepercayaan publik. Skala operasional yang besar membawa tantangan tersendiri, khususnya terkait kepatuhan terhadap standar akuntansi dan regulasi perpajakan yang berlaku di Indonesia. Salah satu isu krusial yang memerlukan penanganan profesional adalah status “nilai nol” pada barang-barang hasil donasi. Ketika barang-barang tersebut dikelola, dinilai, dan dijual kembali, muncul kebutuhan mendesak untuk memiliki standar pelaporan yang presisi guna memastikan setiap transaksi memiliki perlakuan pajak yang tepat secara hukum. Hal ini menuntut adanya kajian mendalam serta konsultasi berkelanjutan dengan pakar perpajakan agar seluruh aktivitas ekonomi organisasi tetap berada dalam koridor legalitas yang jelas.

Untuk mengantisipasi berbagai risiko operasional mulai dari potensi penyimpangan internal, kebocoran dalam rantai distribusi, hingga menghindari prasangka publik akibat pendokumentasian yang tidak sempurna, Dewan Pembina menegaskan pentingnya langkah proaktif melalui audit oleh akuntan publik. Praktik ini telah lebih dahulu diimplementasikan secara konsisten oleh Cagar Foundation sebagai induk organisasi, dan kini Donasi Barang didorong untuk mengadopsi standar emas yang sama. Audit publik bukan sekadar pemeriksaan angka, melainkan instrumen strategis untuk memperkuat kredibilitas institusi di hadapan regulator, seperti Kementerian Sosial, dan lembaga negara lainnya. Melalui audit yang transparan, organisasi dapat lebih kuat dalam melakukan klaim pajak yang sah, misalnya mengusulkan klasifikasi pajak nihil bagi pendapatan yang sepenuhnya dialokasikan kembali untuk program sosial.

Langkah menuju transparansi paripurna ini juga harus didukung dengan penerapan mekanisme verifikasi penyaluran yang ketat dan penggunaan standar pelaporan digital yang baik. Setiap amanah yang dititipkan oleh donatur dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan profesional, memastikan bahwa semangat awal membantu anak-anak spesial di Rumah Autis tetap terjaga keberlanjutannya dalam jangka panjang dan membantu saudara kita yang membutuhkan di berbagai daerah.

Kembali ke Khittah Misi Sosial sebagai Panglima

Di tengah pembahasan mengenai legalitas, dan ekspansi, pertemuan ini ditutup dengan sebuah pengingat penting mengenai akar berdirinya lembaga. Misi awal Donasi Barang dibentuk adalah untuk mendukung secara langsung kebutuhan Yayasan Cagar, Sekolah Sakura, Rumah Autis, serta para relawan.

Mindset ini harus terus dipertegas Donasi Barang tidak bergerak semata-mata untuk mencari himpunan. Manfaat keberadaan lembaga ini harus bisa dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat. tidak hanya oleh relawan maupun sebagai mesin penggerak yang mendukung biaya operasional program pendidikan dan pemberdayaan disabilitas. Di tengah tantangan lapangan seperti masalah pendanaan, kebutuhan guru, sarana prasarana, hingga kapasitas sekretariat, visi sosial ini harus tetap menjadi kompas utama.

Melalui langkah-langkah pembenahan ini, Donasi Barang diharapkan tidak hanya menjadi lembaga yang kuat secara operasional dan finansial, tetapi juga semakin berdampak luas dalam menyebarkan kebaikan dan kemanfaatan bagi masyarakat Indonesia.

Nanda hermawan – Donasi Barang