Belakangan ini, decluttering menjadi kebiasaan yang mulai banyak dilakukan, terutama oleh orang-orang yang merasa mudah lelah, sulit fokus, atau cepat merasa penuh dengan aktivitas sehari-hari. Sekilas, decluttering terlihat seperti kegiatan sederhana berupa merapikan rumah dan mengurangi barang yang tidak terpakai. Namun di balik itu, ada pengaruh yang cukup besar terhadap kondisi mental seseorang.
Tanpa disadari, lingkungan tempat seseorang tinggal ikut memengaruhi suasana hati dan cara seseorang merespons stres. Ruangan yang terlalu penuh, berantakan, atau tidak tertata sering kali membuat pikiran terasa sesak. Bukan karena barang-barang tersebut bermasalah, tetapi karena otak terus menerima rangsangan visual secara terus-menerus. Akibatnya, tubuh lebih mudah merasa lelah meskipun tidak banyak melakukan aktivitas fisik.
Dalam teori kesehatan mental dari Marie Jahoda, seseorang dikatakan memiliki kondisi mental yang sehat ketika mampu merasakan keseimbangan dalam hidup, memiliki kontrol terhadap lingkungan, serta dapat berfungsi dengan nyaman dalam aktivitas sehari-hari. Lingkungan yang tertata dan nyaman dapat membantu seseorang merasa lebih tenang secara emosional, sementara lingkungan yang penuh dan tidak terorganisir sering kali memicu rasa tidak nyaman, stres, dan kelelahan mental ringan yang berlangsung terus-menerus.

Hal ini sering muncul dalam bentuk yang sederhana. Misalnya merasa kesal ketika sulit mencari barang, malas memulai pekerjaan karena meja terlalu berantakan, atau merasa tidak nyaman berada di kamar sendiri. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi kecil seperti ini dapat memengaruhi emosi dan membuat pikiran terasa lebih berat.
Karena itu, banyak orang merasa lebih lega setelah mulai merapikan ruang pribadinya. Saat barang-barang mulai tertata, ruangan terasa lebih lapang dan pikiran pun ikut menjadi lebih tenang. Ada perasaan nyaman ketika melihat lingkungan di sekitar terasa lebih rapi dan terorganisir. Tubuh juga cenderung lebih rileks karena tidak terus-menerus menerima distraksi dari lingkungan yang penuh.
Decluttering juga sering menjadi proses emosional. Tidak sedikit orang menyimpan barang karena memiliki kenangan tertentu, rasa sayang, atau takut akan menyesal jika membuangnya. Hal tersebut wajar, karena manusia memang memiliki keterikatan emosional terhadap benda-benda tertentu. Namun ketika terlalu banyak barang dipertahankan tanpa fungsi yang jelas, rumah dapat terasa penuh bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental.
Di sisi lain, decluttering dapat membantu seseorang belajar melepaskan hal-hal yang sebenarnya sudah tidak lagi dibutuhkan. Proses ini sering kali menghadirkan rasa lega, seolah ada beban kecil yang ikut berkurang. Ruang yang lebih sederhana membuat seseorang lebih mudah beristirahat, lebih fokus menjalani aktivitas, dan lebih nyaman dengan dirinya sendiri.

Kesehatan mental pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang menghadapi masalah besar, tetapi juga bagaimana seseorang menjaga dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Kadang, ketenangan tidak selalu datang dari liburan atau menjauh dari kesibukan, melainkan dari ruang hidup yang terasa nyaman untuk ditempati.
Pada akhirnya, decluttering bukan tentang membuat rumah terlihat sempurna. Decluttering adalah tentang menciptakan ruang yang memberi rasa tenang, nyaman, dan tidak melelahkan secara emosional. Sebab ketika lingkungan di sekitar mulai terasa lebih ringan, sering kali pikiran juga ikut menemukan ruang untuk bernapas lebih lega.
Yessy Cahya Purnama S.Psi – Donasi Barang

